Rocky Dawuni featured in Rolling Stone Indonesia

Ia juga merupakan penggagas festival musik di Ghana bernama Independence Splash Festival yang diadakan untuk mengingatkan seluruh masyarakat Benua Afrika secara keseluruhan akan kepentingan menjadi merdeka di kehidupan modern. “Kemerdekaan adalah suatu hal yang tidak boleh kita lupakan sampai kapan pun. Tak peduli kapan pertama kali sebuah negeri meraih kemerdekaannya,” jelas Rocky kepada Rolling Stone. Setiap tahunnya, Independence Splash Festival diperkirakan menyedot 30 ribu pengunjung.

Prestasinya di sirkuit musik pun tak kalah luar biasa. Agustus 2011 silam, Rocky tampil di venue legendaris, Hollywood Bowl, atas undangan legenda hidup Stevie Wonder. Beberapa nama lain yang juga meramaikan acara tersebut mencakup Janelle Monae, Sharon Jones, Charles Bradley, dan juga Grace Porter. Selain itu, Rocky juga merupakan salah satu penerima daftar sepuluh artis terbaik Afrika versi CNN.

Berikut adalah hasil wawancara Rolling Stone dengan Rocky Dawuni di Bali, sehari sebelum ia bertugas sebagai pengisi acara hari terakhir (1/4) BaliSpirit Festival 2012.

Menurut Anda, apakah keadaan di Bali sesuai dengan hype yang diterima?
Ini adalah kedua kalinya saya datang ke sini dan saya merasa bahwa hype-nya justru tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa pentingnya daerah ini. Saya pikir budaya Indonesia sendiri, secara keseluruhan, memberikan banyak pembelajaran bagi belahan dunia lain mengenai hidup yang harmonis di antara keragaman budaya. Bayangkan saja, Indonesia memiliki ribuan pulau, budaya yang berbeda-beda, agama yang berbeda-beda. Walaupun memiliki status sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, namun terdapat keselarasan yang indah di sini. Bali patut dijadikan tempat awal bagi turis-turis dari seluruh dunia sebelum mendatangi wilayah Indonesia lainnya. Harta karun budaya yang ada di Bali membuat hype yang diterima terasa kurang.

Bagaimana keadaan spiritual di sini jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang pernah Anda kunjungi sebelumnya?
Saya datang dari Ghana, dan saya tumbuh di lingkungan keluarga dengan ragam yang luas. Ghana memiliki segalanya, dari agama tradisional, Islam, maupun Kristen. Ayah saya adalah seorang Muslim, Ibu saya penganut agama Kristen, dan kami berada di lingkungan yang mayoritas memercayai agama tradisional. Jadi saya sangat terekspos dengan pengalaman beragama yang sangat berbeda-beda. Tapi setiap agama juga memiliki unsur manusia yang kental. Tuhan memberikan manusia agama agar manusia bisa menjadi lebih baik dalam menjalani hidup, jadi ada semacam hubungan antar manusia dengan perbedaan agama yang dimiliki setiap daerah. Dan Bali adalah salah satu tempat paling menakjubkan untuk mengalami hubungan antar manusia yang harmonis. Jadi, iya, aspek spiritual di sini sangatlah besar dan kuat.

Anda sering disebut sebagai “Ghana’s Bob Marley”, ada tanggapan mengenai julukan tersebut?
Bagi saya, Bob Marley adalah salah satu eksponen terbesar untuk musik yang memiliki komponen spiritual dan di saat bersamaan bercita-cita untuk membangkitkan orang dari berbagai macam budaya. Dan itulah apa yang saya ingin lakukan melalui musik saya sejak awal. Karena untuk setiap generasi, harus ada seorang musisi yang berada di jalur tersebut, baik di sirkuit mainstream maupun sidestream. Harus ada seniman yang mau menggunakan musik untuk menginspirasi orang dari berbagai budaya dan juga untuk menciptakan pembauran dan pemahaman lintas budaya. Itulah yang saya lakukan dengan musik saya dan itu jugalah yang dilakukan Bob Marley. Saya rasa itulah persamaan yang orang lihat dari saya dan Bob Marley. Dan merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menerima julukan tersebut, karena Bob Marley melakukan semuanya, dari sudut pandang musikal, dengan benar.

Sejak kapan Anda mulai menulis lagu?
Saya mulai sejak kecil, sekitar umur lima tahun. Saya memiliki keterampilan dalam membuat melodi. Di mana pun saya pergi, saya dapat menyaring melodi-melodi yang terdengar. Saya juga merupakan bocah yang gemar bernyanyi. Bahkan banyak orang yang menganggap saya menjengkelkan sampai ada yang berkata, “Shut up, boy!” Hingga pada suatu saat saya menyadari bahwa saya dapat memilah musik hingga komponen yang terdasar dan memahami beberapa bagian sekaligus. Oleh karena itu, kepercayaan diri saya untuk bermusik lantas meningkat dengan pesat. Saya sangat merasa bahwa musik adalah panggilan hidup saya. Setelah itu, saya pun mulai mencari karakter musik sendiri.

Kapan Anda memutuskan untuk berbicara soal isyu sosial dengan lagu-lagu Anda?
Isyu sosial selalu memiliki porsi dalam lagu saya, karena ketika Anda tumbuh di lingkungan yang saya tempati, selalu ada hal yang terjadi. Selalu ada masalah yang harus disadari dan terdapat beberapa masyarakat yang tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Saya ingin memberi harapan kepada masyarakat tersebut dengan menggunakan kemampuan musikal yang saya miliki. Singkatnya, musik merupakan medium yang saya gunakan untuk memberikan kekuatan terhadap sejumlah komunitas masyarakat di segala aspek.

Saya dengar Anda pindah ke Los Angeles?
Saya tinggal di Los Angeles dan juga Ghana. Selain itu, saya juga menjelajahi belahan dunia lain untuk menjalankan konser. Sepertinya saya juga ingin membeli rumah di Bali. Tempat ini sangat indah. [tertawa]

Kenapa Anda memilih Los Angeles?
Istri saya tinggal di Los Angeles, jadi itu adalah pilihan yang alami. Los Angeles juga merupakan daerah menarik bagi saya karena di sanalah salah satu pusat budaya yang mempengaruhi banyak daerah lain di dunia, terutama dengan keberadaan Hollywood. Jadi saya merasakan keperluan untuk mendidik diri saya sendiri soal Los Angeles sekaligus membawa budaya tempat saya berasal.

Apakah tinggal Los Angeles menyebabkan Anda melalui proses penulisan lagu yang berbeda jika dibandingkan dengan di Ghana?
Awalnya, saya enggan untuk merekam lagu di Amerika Serikat karena ketika itu saya berpikir, ‘Saya adalah orang Afrika, saya harus pulang setiap kali ingin menulis lagu.’ Lalu pada suatu saat saya menyadari bahwa Los Angeles juga merupakan lokasi yang tepat bagi banyak makhluk kreatif di seluruh dunia. Seluruh seniman hebat, seluruh musisi hebat, seluruh aktor hebat, semuanya datang ke Los Angeles. Daya kreativitas di sana sangatlah besar. Saya merasa bahwa Los Angeles adalah daerah yang tepat untuk meningkatkan kesenian saya ke level berbeda. Inspirasi saya memang datang dari Ghana, tetapi inspirasi-inspirasi tersebut disempurnakan oleh sejumlah unsur yang ada di Los Angeles.

Apa yang paling Anda rindukan dari Ghana ketika Anda sedang tidak di sana?
[tertawa] Saya rindu makanannya, budaya lokalnya. Menariknya, Bali sangat mirip dengan tempat tinggal saya saat kecil. Tanamannya, tanahnya, cuacanya; semuanya mirip! Saya merasa pulang kampung selama berada di sini.

Kalau Los Angeles?
Saya rindu akan keragaman budayanya. Anda dapat menemukan segala macam budaya di sana, dan semuanya tersusun dengan indah.

Anda memiliki lagu berjudul “Download the Revolution” yang cukup berlawanan dengan “The Revolution Will Not Be Televised” milik Gil Scott-Heron. Menurut Anda, seberapa besar pengaruh teknologi terhadap revolusi?
Teknologi merupakan komponen penting terhadap revolusi. “Download the Revolution” berkisah soal bagaimana manusia akan berhubungan melalui sebuah medium. Setelah terhubung, tujuan yang ingin dicapai sekumpulan manusia tersebut menjadi hal paling penting. Revolusi memang suatu hal yang dilakukan oleh manusia, tetapi katalisnya disemburkan oleh penemuan teknologi. Dan saya percaya bahwa kini kita hidup di era Internet yang berhasil merubuhkan banyak batasan atas hubungan antar manusia. Kita sedang menciptakan paradigma baru, bahkan dunia baru, karena perkembangan teknologi, tetapi kita harus selalu waspada terhadap efek suatu revolusi. Revolusi hanya demi meraih revolusi bukanlah gaya saya. Bagi saya, revolusi juga harus menghasilkan efek positif dan juga hubungan antar manusia yang lebih baik. Semua lapisan masyarakat harus mendapat kesempatan yang sama dalam memperbaiki kualitas hidup mereka masing-masing.